Seorang guru Sejarah memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya,
“Anak-anak, siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945?”
Murid-murid semua diam seribu bahasa. Karena hingga menjelang usai jam pelajaran belum satu murid pun menjawab, sang guru marah dan akhirnya menghukum seluruh muridnya berjemur di lapangan upacara hingga sore hari. Salah seorang murid tersebut, sebut saja Anto, tiba di rumah dengan menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang keheranan bertanya,
“To, kenapa kamu? Berkelahi?”
Anto menjawab, “Bukan Pak, tapi kami dihukum jemur oleh pak Guru.” Ayahnya bertanya lagi, “Kenapa sampai dihukum?”
Anto menjawab, “Kami tidak menjawab siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945, pak” Tiba-tiba muka sang Ayah merah padam dan menampar anaknya itu sembari menghardik,
“Kenapa tidak mengaku saja kamu yang menulisnya!!!”
Senin, 25 Juli 2011
Minggu, 26 Juni 2011
Cinta apa adanya
Cinta Apa Adanya
Namanya Ila, nama lengkapnya Ila Dila Nurlia. Berpawakan kurus dan tinggi yang tingginya 166 cm selisih 2 cm dari aku. Dia seorang mahasiswa S1 Keperawatan salah satu Universitas ternama di Yogyakarta. Dan menurutku dia orang yang hiperaktif susah sekali untuk diam apalagi di atur. Sedangkan aku sendiri mahasiswa seangkatan denganya mengambil jurusan sastra indonesia, satu universitas denganya. Aku sendiri orang yang paling benci jika di bohongi, di remehkan, dan di hina. Karena prinsipku semua orang itu sama, kesempurnaan itu hanya milik Allah.
Dia orang yang cukup terkenal di kampus, karena mudah bergaul, asyik, fear, dan suka menghibur orang. Teman-temanya juga kadang selalu mengejeknya untuk bahan tertawaan teman lainya, bukanya dia marah tapi larut dalam suka cita mereka semua. Yah, itulah dia. Dia yang selalu aku impikan, aku kagumi sosok yang tak pernah sedih, periang dan suka bercanda. Terdengar aneh memang ,tidak sepatutnya cewek yang normal pada umumnya. Seperti anggun, ramah, sopan, dan keibu-ibuan. Tapi dia tidak ! sebaliknya malah dia bersikap acuh tampil apa adanya, dan biasa-biasa saja. “ ya menurutku mungkin apa adanya ! “
***
Awal aku berjumpa denganya ketika aku pertama kali masuk bangku kuliah, aku lupa hari dan kapan waktunya. Yang jelas medio September 2010 awal-awal kami mulai merasakan bangku kuliah. Waktu itu pertemuan yang tidak di sengaja ketika aku sedang berjalan melewati aula kampus dari samping kanan di batasi tembok dia berjalan agak cepat karena mungkin terburu-buru waktu, tanpa disengaja dia menabrak aku yang tengah membawa buku lumayan banyak karena tugas yang diberikan oleh dosen untuk membuat jurnal, lantaran itu aku mencari infon dan sumber dari pinjam buku perpustakaan. Tiba-tiba..... “
Bruuugg..” suara buku itu jatuh berantakan akibat tabrakanku denganya.
“gimana sich kamu, punya mata nggak”?!! katanya kasar padaku. Lalu aku balik memarahinya...
“ loh kok aku yang disalahin?? kamu sendiri bisa jalan yang benar nggak !!!??” gara-gara kamu bukuku jatuh berantakan !”
“Terserah kamu deh, aku lagi buru-buru nih !” Katanya
Dan diapun pergi menjauhi aku, tanpa memperdulikan aku, aku cukup kesal denganya. Kejadian itu membuat aku jadi ilfeel dan BT dengan cewek yang tidak aku kenal tiba-tiba sewot.
Waktupun terus berlalu, hingga sepekan setelah kejadian itu, aku bertemu denganya lagi. Kali itu pertemuanku denganya berbeda sekali. Ketika akan mudik kedaerah masing-masing. Aku akan pulang ke Cilacap dan dia ke Pekalongan. Kami bertemu tanpa sengaja di terminal jogya. Karena menunggui bus jurusan masing-masing di ruang tunggu penumpang yang tak kunjung tiba.
Dia : eh, kamu lagi...? ngapain kamu??
Aku : seharusnya aku yang tanya kamu, ngapain kamu?
Dia : oh ini.. aku mau pulang kampung lagi nungguin bus. Kamu?
Aku : sama... kamu dulu yang nabrak aku kan?
Dia : ih... PD !! kamu tu yang tidak benar duluan...
Aku : ya sudah-sudah.. tidak ada yang salah. Kan tidak sengaja..
Dia : iya deh,, oiya nama kamu sapa??
Aku : Mei, kamu??
Dia : Ila, salam kenal yaa..
Setelah perkenalan itu, akhirnya kami pun berlanjut SMS-an dan saling komunikasi.
Dua bulan sudah aku mengenalnya, aku tahu info pribadinya juga oleh salah satu temanku yang juga teman dia satu jurusan, Septi namanya. Setelah perkenalan itu ada rasa yang berbeda dariku. Aku selau memikirkanya, membayangkanya, dan yang paling parah.... “Kangen bila tak berjumpa ! oh shit man..” ada apa ini... apakah aku menyukainya?apa aku menaruh hati padanya??? Alay.. itulah hal yang masih aku heran. Tapi kucoba untuk tak terlalu menanggapi pemikiran itu. Hingga suatu ketika, aku melihatnya lagi. Kali ini membuatku terkejut bukan kepalang... sewaktu aku sedang duduk di depan kantor administrasi bersama Paimin dan Paijo, aku melihat dia berjalan melewati perpustakaan bersama seorang cowok !oh, betapa kagetnya aku bukan main..tapi aku masih curiga, siapakah dia? Teman? Atau pacar??! Aku masih penasaran.
***
Hari kamis setelah pulang kuliah karena kebetulan jam kuliah hari itu sedikit, aku mendapat kabar dari temanya. Septi...
“hai Sep??” tanyaku padanya
“hai juga, kemana loe?” tanya septi
Mau ke ruang bu Diah ada urusan, eloe?” tanyaku balik
“ini nyamper si Ila, dari tadi belum selesai”. Jelasnya
Oh Ila, emangnya urusan apa’an?” tanyaku heran
“loe belum tau ya..dia kan lagi deket sama cowok, kayak2nya anak fakultas hukum. Eh udah dulu ya, nhe gue udah di sms...” jawabnya cepat
Aku langsung terpaku diam dan gelap pandanganku seakan-akan tak ingin dengar kabar itu. Sewaktu yang kulihat waktu itu benar !
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan berganti bulan kami tak pernah berjumpa, jangankan itu SMS pun tak pernah. Memang aku sengaja dan aku ingin membuang bayanganya jauh-jauh. Memikirkan hal yang tidak berguna dan penyesalanku. Betapa bodohnya, kenapa bisa menyukai dan jatuh cinta kepada orang seperti itu. Kiasan kiasan yang meratapi raut mukaku ini, tak mungkin bisa hilang dan butuh proses. Aku mencoba konsentrasi pada kuliahku dan beban yang aku tanggung selama ini, yaitu mengadu nasib di kota pelajar ini, yah ..aku selain kuliah juga sambil bekerja untuk menyambung kebutuhanku. Tergolong bukan orang yang mampu, tapi meskipun begitu aku terus berusaha agar apa yang kuraih selama ini membuahkan hasil dan orang tuaku bisa tersenyum bahagia. Aku inginkan itu!
****
Aku mendapatkan kabar bahwa Ila kecelakaan di sebuah tempat ketika akan pulang ke kost-nya, Septi yang memberiku kabar itu. Aku kaget dan langsung memburu infonya lebih lanjut berniat untuk menjenguknya dan menemuinya, meskipun sudah lama tak berjumpa. Disebuah Rumah Sakit besar di kota jogya dia di rawat, dan kabarnya dia kecelakaan karena terjatuh dan masuk parit alhasil luka sobek pada tangan dan kaki yang lumayan parah. Aku mencangking 1 Kg jeruk serta cake isi coklat padanya.
Aku: pagi ila, gimana kondisi kamu??
Dia : masih lumayan sakit, kok kamu nengok aku sich?
Aku: nggak boleh ya?
Dia : hehe, boleh kok. Kamu tau aku seperti ini dari siapa?
Aku: dari Septi, nih aku bawain kamu jajan
Dia : waduh ngrepotin, makasih yaa..
Setelah 1,5 jam aku ngobrol denganya kuputuskan untuk pulang. Sampai akhir-akhir ini aku kembali menjalin komunikasi denganya, sering sms an dan sebagainya.
Dua pekan sudah dia di rawat dan dia sudah mulai sembuh. Aku sering berjumpa denganya. Kadang juga saling cerita, hingga suatu ketika.... dia mencerikan kesedihanya yang amat kesal.
Ternyata cowok yang dia sukai membuat kecewa yag sangat mendalam padanya, “pembual besar!!!” bajingan tengik! Fuck off ! Itulah kata-kata yang dia lontarkan padaku. Aku tentu heran dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan, tiba-tiba marah tanpa sebab. Setelah aku tenangkan akhirnya dia mau bercerita padaku. Yang intinya cowok yang dia sukai sudah tidak PeRjAkA lagi!!! Oh shit !! maksudnya apa? Dia seorang playboy cap buaya yang suka sekali dengan banyak cewek. Dan dia Cuma dijadikan koleksinya. Aku terkaget tidak mengira sampai kesitu. Dan aku akhirnya tenangkan dia lagi ,setelah memberikan saran dan nasehat padanya. Akhirnya sadarlah dia, untung dia belum di apa-apakan dan belum sempat pacaran. Berpikir sadar mana yang baik dan mana yang bertindak salah, belajar dari sebuah pengalaman dan realita pahit itu.
Setelah lama aku mengenalnya akhirnya aku mulai merasakan gejala-gejala yang membuatku kurang nyaman padanya, “aduh bisa jadi alay aku...apakah aku menyukainya ?apakah aku falling in love? Tapi yang dijadikan pertanyaan apakah dia sebaliknya?? Oh my god mana mungkin”. Secara totalitas aku berbeda denganya. Bisa mati gaya aku nanti. Tapi waktu terus berlanjut, mau tidak mau aku ingin mencoba bagaimana sich ngungkapin perasaan itu, apakah manis, pahit, pedas, atau asin?? Sudahlah jangan ngegombal. Aku mengajak bertemu denganya, dan dia mau ,disebuah cafe pinggiran di dekat kampus. Pertama kali basa-basi yang aku ucapakan tampaknya kurang menarik. To the point i tell to purpose, “aku suka kamu!” dari awal aku mengenalmu, !
Diam sejenak menghela nafasku dan dia menatapku dengan tatapan kosong tapi tersenyum kecil, dia menjawab “aku juga suka kamu” aku mengenal kamu karena kebaikanmu selama ini, mana yang benar dan mana yang bertindak salah”. Itu kan yang pernah kamu bilang..?
Pikiranku tak mengira ternyata perasaanku denganya sama, dia merespon baik. Akhirnya aku pun menyatakan cinta padanya, dengan malu-malu kucing, ku mulai buka lembaran baru menjalin hubungan cinta denganya dan aku menceritakan kehidupanku sebenarnya, dia menerimaku apa adanya begitu juga aku. Hingga lulus kuliah aku
Tetap berlanjut denganya dan bahagia selamanya. Sampai Tuhan memberikan aku berjodoh denganya.
By : diyankz
Rabu, 01 Juni 2011
Makalah Sosiologi
TUGAS PSIKOLOGI
PENGUKURAN UJI PSIKOLOGIS
Dosen Pengampu : Widyo Subagyo, SST. MMR.

Disusun oleh :
1. Amalia Anjas N. (P17420210004)
2. Dwi Rachmawati (P17420210012)
3. Hindra Maidianto L. (P17420210020)
4. Munthoyib (P17420210028)
5. Nur Panca R. (P17420210036)
6. Rinda Kholis I. (P17420210044)
7. Yusuf Bahtiar (P17420210052)
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
2010/2011



Rinda Kholis I.



PENYUSUN

Dwi Rachmawati

Amalia Anjas N.

Rinda Kholis I.

Nur Panca Retnaningsih

Hindra Maidianto L

Muntoyib

Yusuf Bahtiar
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan barokah-Nya kepada penulis yang tak kan pernah putus nikmatnya. Yang akan selalu ada mengiringi tiap jejak langkah dalam setiap kepingan-kepingan perjalanan hidup kita. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tugas Psikologi yang berjudul “Pengukuran Uji Psikologis” dengan baik.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada orang tua penulis atas segala doa dan pengorbanan mereka yang tak kan pernah sedikit pun kami sanggup membalasnya. Serta kepada bapak Widyo Subagyo, SST. MMR selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi yang telah memberikan tugas ini. Terakhir, kepada semua yang membantu penulis dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari kekurangan-kekurangan dalam makalah ini. Semoga dapat menjadi lebih baik pada masa yang akan datang dan bermanfaat bagi semua.
Purwokerto, 10 Januari 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Penyusun.................................................................................... 1
Kata Pengantar............................................................................ 3
Daftar Isi.................................................................................... 4
BAB I Pendahuluan....................................................................... 6
A. Latar Belakang Masalah................................................... 6
B. Perumusan Masalah......................................................... 6
C. Tujuan........................................................................... 7
BAB II Pembahasan...................................................................... 8
A. Pengertian..................................................................... 8
B. Penilaian Psikologis........................................................ 9
C. Ciri-ciri Alat Ukur........................................................... 10
D. Uji Psikologi.................................................................. 11
E. Tujuan Psikotes.............................................................. 12
F. Jenis-jenis Tes Psikologi.................................................. 14
G. Keamanan Tes................................................................ 19
H. Langkah-langkah Menyusun Alat Psikologis........................ 20
BAB II Penutup............................................................................ 22
A. Kesimpulan.................................................................... 22
B. Saran............................................................................ 23
Daftar Pustaka............................................................................. 24
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengukuran adalah suatu alat untuk mencapai tujuan di dalam pengetahuan tersebut, sehingga memungkinkan dipenuhinya kebutuhan dari penilaian bidang tertentu. Uji psikologi diartikan suatu cara untuk mengetahui seseorang, misalnya watak dan kemampuan seseorang.
Salah satu masalah yang mendorong kebutuhan akan penggunaan tes psikologi adalah untuk membedakan antara manusia normal dan manusia abnormal. Untuk menghindari penyalahgunaan uji psikologis, ada beberapa kode etik yang perlu diperhatikan.
B. Perumusan Masalah
Masalah yang diuraikan dalam makalah ini dirumuskan dalam beberapa perumusan, yaitu:
1. Apa pengertian dari uji atau tes psikologis?
2. Bagaimana penilaian psikologis itu?
3. Apa saja ciri-ciri dari alat ukur atau uji psikologis itu?
4. Bagaimana kriteria dari uji psikologis?
5. Apa saja tujuan dari psikotes?
6. Apa saja jenis-jenis tes psikologis?
7. Bagaimana mengenai keamanan tes tersebut?
8. Apa saja langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam menyusun alat-alat tes psikologis?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Agar mahasiswa dan pembaca dapat mengetahui mengenai pengukuran uji psikologis.
2. Agar mahasiswa dan pembaca dapat mengetahui jenis-jenis dari pengukuran uji psikologis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Tes psikologis adalah bidang ditandai dengan penggunaan contoh perilaku dalam rangka untuk menilai psikologis membangun, seperti fungsi kognitif dan emosional, tentang individu tertentu.
Sebuah tes psikologis adalah alat yang dirancang untuk mengukur teramati konstruksi, juga dikenal sebagai variabel laten . Sebuah tes psikologi berguna harus baik berlaku (misalnya, ada bukti untuk mendukung interpretasi tertentu dari hasil tes ) dan handal (yaitu, internal konsisten atau memberikan hasil yang konsisten dari waktu ke waktu, melintasi penilai, dll).
Uji psikologis ini penting bahwa orang-orang yang sama pada membangun diukur juga memiliki probabilitas yang sama menjawab item tes dengan benar . Sebagai contoh, satu item pada tes matematika bisa "Dalam pertandingan sepakbola dua pemain mendapatkan kartu merah, berapa banyak pemain yang tersisa pada akhirnya?", Namun item ini juga memerlukan pengetahuan tentang sepak bola harus dijawab dengan benar, bukan hanya matematis kemampuan. Keanggotaan Grup juga dapat mempengaruhi kesempatan pada item memiliki benar ( berfungsi item diferensial ). Seringkali tes yang dibangun untuk populasi tertentu, dan hal ini harus diperhitungkan ketika penyelenggara tes. Jika tes adalah invarian untuk beberapa perbedaan kelompok (gender misalnya) dalam satu populasi (misalnya Inggris) tidak secara otomatis berarti bahwa itu juga invarian dalam populasi lain (misalnya Jepang).
B. Penilaian Psikologis
Penilaian psikologis mirip dengan tes psikologis tetapi biasanya melibatkan penilaian yang lebih komprehensif individu. penilaian psikologis adalah proses yang melibatkan integrasi informasi dari berbagai sumber, seperti tes kepribadian normal dan abnormal, tes kemampuan atau kecerdasan, tes kepentingan atau sikap, serta informasi dari wawancara pribadi. Jaminan informasi juga dikumpulkan tentang pribadi, pekerjaan, atau sejarah medis, seperti dari catatan atau dari wawancara dengan orang tua, suami / istri, guru, atau terapis sebelumnya atau dokter.
Khas jenis fokus untuk penilaian psikologis untuk memberikan diagnosis untuk pengaturan pengobatan; untuk menilai area tertentu berfungsi atau cacat sering untuk pengaturan sekolah; untuk membantu memilih jenis perawatan atau untuk menilai hasil pengobatan, untuk membantu pengadilan memutuskan masalah seperti anak ditahan atau kompetensi untuk diadili, untuk membantu menilai pekerjaan atau pelamar karyawan dan memberikan konseling karir pengembangan atau pelatihan.
Tes Psikologi akan mengukur aspek – aspek
· Kepribadian/personality
· Sikap/attitude
· Minat/intertist
· Bakat/attitude
· Intelegensia/kecakapan
C. Ciri-ciri Alat ukur
1. Validitas
Validitas menunjukan hasil test sesuai criteria yang dirumuskan.
Validitas hanya berlaku untuk criteria tertentu.
Ada 3 validitas yaitu :
· Validitas semu
Hasilnya beraneka ragam dan tidak obyektif
· Validitas konten
Di gunakan untuk test hasil belajar
· Validitas empiris
Validitas yang memuaskan karena ada korelasi antara hasil dan kriteria test.Ada 2 yaitu validitas meramal dan status.
2. Reabilitas
Ketetapan dari nilai yang di peroleh sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda dengan test yang sama/item yang sama.
Dipengaruhi oleh :
· Koefisien stabilitas
· Ekuivalen
· Homogenitas test
3. Norma
Norma merupakan status quo(tidak mutlak) dan disesuaikan dengan kondisi.
Norma dipakai pada kelompok yang besar,representative,bahan test harus sama dengan bahan yang dijadikan norma.
D. Uji Psikologis
· Suatu cara untuk mengetahui seseorang seperti intelegensi,ketekunan,bakat,minat dengan tujuan untuk menyelidiki watak dan kemampuan seseorang.
· Dengan pemberian tugas untuk menyelesaikan sesuatu/menelaah masalah tertentu.
· Dipakai untuk membedakan manusia normal dan abnormal.
· Dalam uji psikologis kode etik harus diperhatikan,penjualan dan distribusi test di batasi.
· Teruji dan penguji tidak ada hub batin.
Menurut Dyer suatu test tidak pernah menunjukan tujuan akhir dari suatu penyelidikan karena :
· Suatu test tunggal tak cukup member gambaran mengenai suatu kemampuan,sifat atau sikap perseorangan.
· Bahwa test jangan di kirakan mutlak,abadi interpretasinya.
· Bahwa tak dapat dianggap suatu mesin yang dapat diputar begitu saja untuk mendapatkan suatu hasil.Tes adalah suatu penilaian manusia,hasil pemikiran manusia setelah daya upaya keras dan bukan sesuatu yang bersifat fisik belaka.
E. Tujuan Psikotes
· Mengenal diri lebih obyektif
· Menerima keadaan didi secara obyektif
· Mampu mengemukakan berbagai aspek di dalam dirinya
· Mampu mengelola informasi sebagai dasar pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Tujuan tes (Rating skala atau-laporan mengukur diri)
Tujuan tes memiliki format respon terbatas, seperti memungkinkan untuk jawaban benar atau salah atau rating menggunakan skala ordinal. Tokoh contoh tes kepribadian objektif termasuk Minnesota Multifase Personality Inventory , Millon Clinical multiaksial Inventory-III , Perilaku Anak Checklist , Gejala Checklist 90 dan Beck Depression Inventory . tes kepribadian dapat Tujuan dirancang untuk digunakan dalam bisnis untuk karyawan potensial, seperti NEO-PI, 16PF, dan OPQ (Occupational Personality Questionnaire), yang semuanya didasarkan pada Lima Besar taksonomi. Besar Lima, atau Lima Faktor Model kepribadian normal, telah memperoleh penerimaan sejak awal 1990-an ketika beberapa meta-analisis berpengaruh (misalnya, Barrick & Gunung 1991) menemukan hubungan yang konsisten antara faktor-faktor kepribadian Big Five dan variabel kriteria penting.
Skor Interpreting
Tes psikologis, seperti banyak pengukuran karakteristik manusia, bisa ditafsirkan dalam rujukan atau kriteria-direferensikan secara norma. Norma adalah representasi statistik dari populasi. Sebuah norma-referenced interpretasi skor membandingkan individu hasil-hasil pada tes dengan representasi statistik penduduk. Dalam prakteknya, daripada pengujian populasi, sampel yang representatif atau kelompok diuji. Ini memberikan norma kelompok atau set norma. Salah satu representasi dari norma adalah kurva Bell (juga disebut "kurva normal").Norma tersedia untuk tes psikologi standar, memungkinkan untuk memahami bagaimana skor individu dibandingkan dengan norma-norma kelompok. Norma direferensikan skor biasanya dilaporkan pada skor standar (z) skala atau rescaling itu. Sebuah kriteria-referenced interpretasi skor tes membandingkan kinerja individu untuk beberapa kriteria selain kinerja individu lainnya. Sebagai contoh, sekolah generik tes biasanya memberikan skor dalam referensi ke domain subjek; mahasiswa mungkin skor 80% pada tes geografi. direferensikan skor interpretasi-Kriteria umumnya lebih berlaku untuk prestasi tes bukan tes psikologi. Seringkali, skor tes dapat ditafsirkan pada kedua cara; skor dari 80% pada tes geografi dapat menempatkan mahasiswa di persentil ke-84, atau skor standar 1.0.
F. Jenis-jenis Tes Psikologi
1. IQ prestasi tes
Tes IQ mengaku menjadi ukuran kecerdasan , sedangkan tes prestasi adalah ukuran penggunaan dan tingkat perkembangan penggunaan kemampuan. IQ (atau kognitif) tes dan tes prestasi tes norma-referensi umum. Dalam jenis tes, serangkaian tugas disajikan untuk orang yang sedang dievaluasi, dan tanggapan seseorang yang dinilai dengan hati-hati sesuai dengan pedoman yang ditetapkan. Sesudah pengujian selesai, hasilnya dapat dikompilasi dan dibandingkan dengan respon dari kelompok norma, biasanya terdiri dari orang-orang pada usia yang sama atau tingkat kelas sebagai orang yang sedang dievaluasi. tes IQ yang berisi serangkaian tugas biasanya membagi tugas ke dalam verbal (mengandalkan pada penggunaan bahasa) dan kinerja, atau non-verbal (mengandalkan tangan jenis mata tugas, atau penggunaan simbol atau objek). Contoh tugas tes IQ verbal adalah kosakata dan informasi (menjawab pertanyaan pengetahuan umum). contoh non-verbal dihitung penyelesaian teka-teki (majelis obyek) dan gambar yang cocok dengan mengidentifikasi pola (penalaran matriks).
Tes IQ (misalnya, WAIS-IV , WISC-IV , Cattell Culture Fair III , Woodcock-Johnson Tes Kognitif Kemampuan-III, Stanford-Binet Intelligence Scales V) dan tes prestasi akademik (misalnya WIAT , WRAT , Woodcock-Johnson Pengujian Prestasi-III) dirancang untuk diberikan kepada baik individu (oleh evaluator terlatih) atau sekelompok orang (kertas dan pensil tes).
2. Tes Sikap
Uji Sikap menilai perasaan seseorang tentang orang, kejadian, atau objek. Sikap skala digunakan dalam pemasaran untuk menentukan individu (dan kelompok) preferensi untuk merek, atau item. Biasanya menggunakan tes sikap baik Skala Thurston, atau Skala Likert untuk mengukur item tertentu.
3. Tes Neuropsikologis
Tes ini terdiri dari tugas-tugas khusus dirancang digunakan untuk mengukur fungsi psikologis diketahui terkait dengan struktur otak tertentu atau jalur. Mereka biasanya digunakan untuk menilai penurunan setelah cedera atau sakit diketahui mempengaruhi neurokognitif berfungsi, atau bila digunakan dalam penelitian, untuk kontras kemampuan neuropsikologi seluruh kelompok eksperimental.
4. Tes Kepribadian
tindakan psikologis kepribadian sering digambarkan sebagai tes objektif atau tes proyektif . Istilah "tes objektif" dan "test proyektif" baru saja datang di bawah kritik dalam Journal of Personality Assessment. Semakin deskriptif "rating skala atau ukuran laporan diri" dan "tindakan respon bebas" yang disarankan, daripada istilah "tes objektif" dan "tes proyektif," masing-masing.
Tes kepribadian berdasarkan Model Lima Faktor ( Lima Faktor Kepribadian Persediaan - Anak-anak )
A. Tes proyektif (Free tindakan respon)
Tes proyektif memungkinkan untuk lebih bebas jenis respon. Contoh ini akan menjadi tes Rorschach , di mana negara masing-masing orang apa bercak tinta mungkin sepuluh. tes proyektif menjadi pertumbuhan industri pada semester pertama tahun 1900-an, dengan keraguan tentang asumsi teoretis di belakang pengujian projektif timbul pada paruh kedua 1900-an. Beberapa tes proyektif yang digunakan lebih jarang hari ini karena mereka lebih banyak waktu memakan mengelola dan karena reliabilitas dan validitas yang kontroversial.
Sebagai sampling ditingkatkan dan dikembangkan metode statistik, banyak kontroversi mengenai utilitas dan validitas tes proyektif telah terjadi. Penggunaan penilaian klinis daripada norma-norma dan statistik untuk mengevaluasi karakteristik masyarakat telah meyakinkan banyak yang projectives kekurangan dan tidak dapat diandalkan (hasilnya terlalu berbeda setiap kali tes diberikan kepada orang yang sama). Namun, banyak praktisi terus bergantung pada tes proyektif, dan ahli pengujian beberapa (misalnya, Cohen, Anastasi) menunjukkan bahwa tindakan-tindakan ini dapat bermanfaat dalam mengembangkan hubungan terapeutik. Mereka juga dapat berguna dalam menciptakan kesimpulan untuk menindaklanjuti dengan metode lain. Yang digunakan sistem skoring luas paling untuk Rorschach adalah sistem Exner dari penilaian .Sebuah tes lain proyektif umum adalah Tematik Apperception Test (TAT), yang sering mencetak gol dengan Westen Sosial Kognisi dan Obyek Hubungan Scales dan Phebe Cramer Pertahanan Mekanisme Manual. Kedua "skala rating" dan "bebas respon" langkah-langkah yang digunakan dalam praktek klinis kontemporer, dengan kecenderungan terhadap mantan.
Tes proyektif lainnya termasuk Test House-Tree-Person, Robert Apperception Test, dan proyektif Lampiran.
B. Tes Sexological
Jumlah tes khusus dimaksudkan untuk bidang seksologi sangat terbatas. Bidang seksologi memberikan psikologis perangkat evaluasi yang berbeda untuk menguji berbagai aspek dari masalah, ketidaknyamanan atau disfungsi, terlepas dari apakah mereka atau relasional yang individu.
C. Tes Observasi Langsung
Meskipun tes psikologi sebagian besar "skala rating" atau "bebas respon" langkah-langkah, penilaian psikologis mungkin juga melibatkan pengamatan orang ketika mereka kegiatan lengkap. Jenis penilaian ini biasanya dilakukan dengan keluarga di rumah, laboratorium atau dengan anak-anak di ruang kelas. Tujuannya mungkin klinis, seperti untuk membentuk dasar pra-intervensi perilaku hiperaktif atau agresif anak kelas atau untuk mengamati sifat interaksi orangtua-anak untuk memahami gangguan relasional. prosedur observasi langsung juga digunakan dalam penelitian, misalnya untuk mempelajari hubungan antara variabel intrapsikis dan perilaku target tertentu, atau untuk mengeksplorasi urutan interaksi perilaku.
Anak-Orangtua Interaksi Penilaian-II (PCIA) adalah contoh dari prosedur pengamatan langsung yang digunakan dengan anak-anak usia sekolah dan orang tua. Para orang tua dan anak-anak bermain rekaman video di kebun binatang membuat-percaya. Anak-Induk Dini Relational Assessment (Clark, 1999) yang digunakan untuk mempelajari orang tua dan anak-anak dan melibatkan makan dan teka-teki tugas. The MacArthur Story Stem Baterai (MSSB) yang digunakan untuk memperoleh narasi dari anak-anak. The diad Parent-Child Interaksi Coding System-II (Eyberg, 1981) trek sejauh mana anak-anak mengikuti perintah orang tua dan sebaliknya dan cocok untuk penelitian anak-anak dengan oposisi pemberontak Gangguan dan orang tua mereka.
D.
E.
F.
G. Keamanan Test
Banyak tes psikologi pada umumnya tidak tersedia untuk umum, tetapi memiliki batasan baik dari penerbit tes dan dari perizinan papan psikologi yang mencegah pengungkapan tes sendiri dan informasi mengenai interpretasi hasil.Uji penerbit mempertimbangkan baik hak cipta dan masalah etika profesional untuk terlibat dalam melindungi kerahasiaan tes mereka, dan mereka menjual tes hanya untuk orang-orang yang telah membuktikan kualifikasi pendidikan dan profesional untuk kepuasan pembuat tes ini. Pembeli secara hukum terikat dari memberikan jawaban pengujian atau tes sendiri keluar pada publik kecuali diizinkan di bawah standar itu pembuat kondisi uji untuk administrasi tes.
H. Langkah-langkah Menyusun Alat Tes Psikologis:
- Identifikasi tujuan penggunaan tes
- Identifikasi domain tingkah laku dan indikator-indikator yang mewakili konstruk
- Membuat test specification (kisi-kisi)
- Menulis item berdasarkan kisi-kisi dengan memperhatikan kriteria penulisan item
- Review item dan merevisi item, berdasarkan definisi operasional dari konstruk yang diukur, kisi-kisi dan kriteria
penulisan item
- Melakukan uji coba
- Tentukan sampel yang mewakili populasi yang dituju untuk uji coba
- Administrasikan uji coba
- Pengujian psikometri: analisis item, uji validitas dan reliabilitas
- Revisi item
- Kalau memungkinkan dan perlu, dilakukan uji coba lagi
- Susun norma untuk interpretasi skor
- Produksi alat tes psikologis baru
Selanjutnya lihat:
- analisis item;
- reliabilitas;
- validitas;
- norma.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tes psikologis adalah alat yang dirancang untuk mengukur teramati konstruksi yang dikenal sebagai variabel laten kemudian harus berguna baik, berlaku dan handal (yaitu, internal konsisten atau memberikan hasil yang konsisten dari waktu ke waktu, melintasi penilai).
Uji psikologis merupakan suatu cara untuk mengetahui seseorang seperti intelegensi,ketekunan,bakat,minat dengan tujuan untuk menyelidiki watak dan kemampuan seseorang.
Tujuan dari uji atau tes psikologis antara lain:
· Mengenal diri lebih obyektif
· Menerima keadaan didi secara obyektif
· Mampu mengemukakan berbagai aspek di dalam dirinya
· Mampu mengelola informasi sebagai dasar pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
B. Saran
Semua orang perlu menyadari dan memahami bahwa suatu pengujian tidak pernah menunjukkan tujuan akhir dari suatu penyelidikan. Pengujian adalah suatu penilaian manusia, hasil pemikiran manusia setelah daya upaya keras dan bukan sesuatu yang bersifat mutlak dan fisik belaka.
Kontrol terhadap tes-tes psikologi perlu untuk menghindari makin dikenalnya isi tes tersebut untuk sembarang orang, dan untuk diyakini bahwa tes tersebut dilakukan oleh seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Mellenbergh, GJ.2008.Bab 10: Survei. Dalam HJ Ader & GJ Mellenbergh (Eds.) (dengan kontribusi oleh Hand DJ), Advising pada Metode Penelitian: konsultan pendamping A (hal. 183-209).Belanda: Johannes van Kessel Publishing.
American Educational Research Association, American Psychological Association, & Dewan Nasional Pengukuran dalam Pendidikan.1999. Standar Untuk Psikologis Pengujian Pendidikan.Washington DC: American Educational Research Association.
Purwanto, Heri.1999.Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Widayatun, Tri Rusmi.1999.Ilmu Perilaku.CV INFOMEDIKA.
Langganan:
Komentar (Atom)