Cinta Apa Adanya
Namanya Ila, nama lengkapnya Ila Dila Nurlia. Berpawakan kurus dan tinggi yang tingginya 166 cm selisih 2 cm dari aku. Dia seorang mahasiswa S1 Keperawatan salah satu Universitas ternama di Yogyakarta. Dan menurutku dia orang yang hiperaktif susah sekali untuk diam apalagi di atur. Sedangkan aku sendiri mahasiswa seangkatan denganya mengambil jurusan sastra indonesia, satu universitas denganya. Aku sendiri orang yang paling benci jika di bohongi, di remehkan, dan di hina. Karena prinsipku semua orang itu sama, kesempurnaan itu hanya milik Allah.
Dia orang yang cukup terkenal di kampus, karena mudah bergaul, asyik, fear, dan suka menghibur orang. Teman-temanya juga kadang selalu mengejeknya untuk bahan tertawaan teman lainya, bukanya dia marah tapi larut dalam suka cita mereka semua. Yah, itulah dia. Dia yang selalu aku impikan, aku kagumi sosok yang tak pernah sedih, periang dan suka bercanda. Terdengar aneh memang ,tidak sepatutnya cewek yang normal pada umumnya. Seperti anggun, ramah, sopan, dan keibu-ibuan. Tapi dia tidak ! sebaliknya malah dia bersikap acuh tampil apa adanya, dan biasa-biasa saja. “ ya menurutku mungkin apa adanya ! “
***
Awal aku berjumpa denganya ketika aku pertama kali masuk bangku kuliah, aku lupa hari dan kapan waktunya. Yang jelas medio September 2010 awal-awal kami mulai merasakan bangku kuliah. Waktu itu pertemuan yang tidak di sengaja ketika aku sedang berjalan melewati aula kampus dari samping kanan di batasi tembok dia berjalan agak cepat karena mungkin terburu-buru waktu, tanpa disengaja dia menabrak aku yang tengah membawa buku lumayan banyak karena tugas yang diberikan oleh dosen untuk membuat jurnal, lantaran itu aku mencari infon dan sumber dari pinjam buku perpustakaan. Tiba-tiba..... “
Bruuugg..” suara buku itu jatuh berantakan akibat tabrakanku denganya.
“gimana sich kamu, punya mata nggak”?!! katanya kasar padaku. Lalu aku balik memarahinya...
“ loh kok aku yang disalahin?? kamu sendiri bisa jalan yang benar nggak !!!??” gara-gara kamu bukuku jatuh berantakan !”
“Terserah kamu deh, aku lagi buru-buru nih !” Katanya
Dan diapun pergi menjauhi aku, tanpa memperdulikan aku, aku cukup kesal denganya. Kejadian itu membuat aku jadi ilfeel dan BT dengan cewek yang tidak aku kenal tiba-tiba sewot.
Waktupun terus berlalu, hingga sepekan setelah kejadian itu, aku bertemu denganya lagi. Kali itu pertemuanku denganya berbeda sekali. Ketika akan mudik kedaerah masing-masing. Aku akan pulang ke Cilacap dan dia ke Pekalongan. Kami bertemu tanpa sengaja di terminal jogya. Karena menunggui bus jurusan masing-masing di ruang tunggu penumpang yang tak kunjung tiba.
Dia : eh, kamu lagi...? ngapain kamu??
Aku : seharusnya aku yang tanya kamu, ngapain kamu?
Dia : oh ini.. aku mau pulang kampung lagi nungguin bus. Kamu?
Aku : sama... kamu dulu yang nabrak aku kan?
Dia : ih... PD !! kamu tu yang tidak benar duluan...
Aku : ya sudah-sudah.. tidak ada yang salah. Kan tidak sengaja..
Dia : iya deh,, oiya nama kamu sapa??
Aku : Mei, kamu??
Dia : Ila, salam kenal yaa..
Setelah perkenalan itu, akhirnya kami pun berlanjut SMS-an dan saling komunikasi.
Dua bulan sudah aku mengenalnya, aku tahu info pribadinya juga oleh salah satu temanku yang juga teman dia satu jurusan, Septi namanya. Setelah perkenalan itu ada rasa yang berbeda dariku. Aku selau memikirkanya, membayangkanya, dan yang paling parah.... “Kangen bila tak berjumpa ! oh shit man..” ada apa ini... apakah aku menyukainya?apa aku menaruh hati padanya??? Alay.. itulah hal yang masih aku heran. Tapi kucoba untuk tak terlalu menanggapi pemikiran itu. Hingga suatu ketika, aku melihatnya lagi. Kali ini membuatku terkejut bukan kepalang... sewaktu aku sedang duduk di depan kantor administrasi bersama Paimin dan Paijo, aku melihat dia berjalan melewati perpustakaan bersama seorang cowok !oh, betapa kagetnya aku bukan main..tapi aku masih curiga, siapakah dia? Teman? Atau pacar??! Aku masih penasaran.
***
Hari kamis setelah pulang kuliah karena kebetulan jam kuliah hari itu sedikit, aku mendapat kabar dari temanya. Septi...
“hai Sep??” tanyaku padanya
“hai juga, kemana loe?” tanya septi
Mau ke ruang bu Diah ada urusan, eloe?” tanyaku balik
“ini nyamper si Ila, dari tadi belum selesai”. Jelasnya
Oh Ila, emangnya urusan apa’an?” tanyaku heran
“loe belum tau ya..dia kan lagi deket sama cowok, kayak2nya anak fakultas hukum. Eh udah dulu ya, nhe gue udah di sms...” jawabnya cepat
Aku langsung terpaku diam dan gelap pandanganku seakan-akan tak ingin dengar kabar itu. Sewaktu yang kulihat waktu itu benar !
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan berganti bulan kami tak pernah berjumpa, jangankan itu SMS pun tak pernah. Memang aku sengaja dan aku ingin membuang bayanganya jauh-jauh. Memikirkan hal yang tidak berguna dan penyesalanku. Betapa bodohnya, kenapa bisa menyukai dan jatuh cinta kepada orang seperti itu. Kiasan kiasan yang meratapi raut mukaku ini, tak mungkin bisa hilang dan butuh proses. Aku mencoba konsentrasi pada kuliahku dan beban yang aku tanggung selama ini, yaitu mengadu nasib di kota pelajar ini, yah ..aku selain kuliah juga sambil bekerja untuk menyambung kebutuhanku. Tergolong bukan orang yang mampu, tapi meskipun begitu aku terus berusaha agar apa yang kuraih selama ini membuahkan hasil dan orang tuaku bisa tersenyum bahagia. Aku inginkan itu!
****
Aku mendapatkan kabar bahwa Ila kecelakaan di sebuah tempat ketika akan pulang ke kost-nya, Septi yang memberiku kabar itu. Aku kaget dan langsung memburu infonya lebih lanjut berniat untuk menjenguknya dan menemuinya, meskipun sudah lama tak berjumpa. Disebuah Rumah Sakit besar di kota jogya dia di rawat, dan kabarnya dia kecelakaan karena terjatuh dan masuk parit alhasil luka sobek pada tangan dan kaki yang lumayan parah. Aku mencangking 1 Kg jeruk serta cake isi coklat padanya.
Aku: pagi ila, gimana kondisi kamu??
Dia : masih lumayan sakit, kok kamu nengok aku sich?
Aku: nggak boleh ya?
Dia : hehe, boleh kok. Kamu tau aku seperti ini dari siapa?
Aku: dari Septi, nih aku bawain kamu jajan
Dia : waduh ngrepotin, makasih yaa..
Setelah 1,5 jam aku ngobrol denganya kuputuskan untuk pulang. Sampai akhir-akhir ini aku kembali menjalin komunikasi denganya, sering sms an dan sebagainya.
Dua pekan sudah dia di rawat dan dia sudah mulai sembuh. Aku sering berjumpa denganya. Kadang juga saling cerita, hingga suatu ketika.... dia mencerikan kesedihanya yang amat kesal.
Ternyata cowok yang dia sukai membuat kecewa yag sangat mendalam padanya, “pembual besar!!!” bajingan tengik! Fuck off ! Itulah kata-kata yang dia lontarkan padaku. Aku tentu heran dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan, tiba-tiba marah tanpa sebab. Setelah aku tenangkan akhirnya dia mau bercerita padaku. Yang intinya cowok yang dia sukai sudah tidak PeRjAkA lagi!!! Oh shit !! maksudnya apa? Dia seorang playboy cap buaya yang suka sekali dengan banyak cewek. Dan dia Cuma dijadikan koleksinya. Aku terkaget tidak mengira sampai kesitu. Dan aku akhirnya tenangkan dia lagi ,setelah memberikan saran dan nasehat padanya. Akhirnya sadarlah dia, untung dia belum di apa-apakan dan belum sempat pacaran. Berpikir sadar mana yang baik dan mana yang bertindak salah, belajar dari sebuah pengalaman dan realita pahit itu.
Setelah lama aku mengenalnya akhirnya aku mulai merasakan gejala-gejala yang membuatku kurang nyaman padanya, “aduh bisa jadi alay aku...apakah aku menyukainya ?apakah aku falling in love? Tapi yang dijadikan pertanyaan apakah dia sebaliknya?? Oh my god mana mungkin”. Secara totalitas aku berbeda denganya. Bisa mati gaya aku nanti. Tapi waktu terus berlanjut, mau tidak mau aku ingin mencoba bagaimana sich ngungkapin perasaan itu, apakah manis, pahit, pedas, atau asin?? Sudahlah jangan ngegombal. Aku mengajak bertemu denganya, dan dia mau ,disebuah cafe pinggiran di dekat kampus. Pertama kali basa-basi yang aku ucapakan tampaknya kurang menarik. To the point i tell to purpose, “aku suka kamu!” dari awal aku mengenalmu, !
Diam sejenak menghela nafasku dan dia menatapku dengan tatapan kosong tapi tersenyum kecil, dia menjawab “aku juga suka kamu” aku mengenal kamu karena kebaikanmu selama ini, mana yang benar dan mana yang bertindak salah”. Itu kan yang pernah kamu bilang..?
Pikiranku tak mengira ternyata perasaanku denganya sama, dia merespon baik. Akhirnya aku pun menyatakan cinta padanya, dengan malu-malu kucing, ku mulai buka lembaran baru menjalin hubungan cinta denganya dan aku menceritakan kehidupanku sebenarnya, dia menerimaku apa adanya begitu juga aku. Hingga lulus kuliah aku
Tetap berlanjut denganya dan bahagia selamanya. Sampai Tuhan memberikan aku berjodoh denganya.
By : diyankz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar