Rabu, 01 Juni 2011

Komdak


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “KOMUNIKASI PADA KASUS NYERI ” tepat pada waktunya.
Dalam meyusun makalah ini, kami menyadari bahwa selesainya makalah ini tidak lepas dari beberapa pihak. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya IBU WALIN,SST,M.Kes  sebagai dosen pembimbing  mata kuliah etika keperawatan, serta pihak lain yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Selain itu, kami juga menyadari bahwa tiada gading yang tak retak. Begitupun dengan kami sebagai manusia tentunya dalam menyusun makalah ini kamipun tidak luput dari kesalahan. Oleh karena tu, kami mengharap datangnya kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca, dengan harapan agar suatu saat nanti kami dapat menyusun makalah dengan lebih baik lagi.
Semoga dengan disusunnya makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca. Amin.


Purwokerto, 13 april 2011




Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Tubuh manusia itu terdiri dari beberapa sel dan jaringan. Dan mempunyai peranan serta fungsi yang berbeda-beda. Dari bermacam-macam sel juga mmempunyai sitem yang terdiri dari jantung, paru, hati, ginjal, lambung, otak,dsb. Manusia tentu bisa merasakan sakit, karena manusia terdiri dari saraf-saraf  sensorik, yang memberikan rangsangan dan sensitif hal itu disebut dengan nyer i.
Perasaan sakit bukanlah penyakit namun merupakan suatu perasaan subjektif yang memberi tanda bahwa ada yang salah dalam tubuh seseorang. Tiap orang mengartikan rasa sakit dengan cara yang berbeda-beda dan ambang batas toleransinya juga bervariasi dari satu orang ke orang lainnya.
B.  Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian nyeri ?
2.      Bagaimana seorang pasien menanggapi sensasi nyeri?
3.      Bagaimana fisiologis nyeri ?
4.      Bagaimanakah pengelompokan nyeri menurut durasinya ?
5.      Bagaimana penanganan nyeri ?
6.      Apa saja langkah menganalisis nyeri ?
7.      Bagaimanakah respon  psikologis dan fisiologis pasien pada nyeri ?
8.      Apa saja faktor yang mempengaruhi proses nyeri ?



C.  Tujuan
1.      Mahasiswa mampu mengetahui tentang nyeri
2.      Mahasiswa mengetahui tentang apa saja yang terdapat pada nyeri
3.      Mampu memenuhi tugas diskusi Komunikasi Dalam keperawatan
BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Nyeri
Nyeri adalah rasa sakit dan nyeri merupakan kondisi dan pengalaman sensoris dan emosi tidak mengenakkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang sedang terjadi ataupun yang berpotensi dapat terjadi. Perasaan sakit bukanlah penyakit namun merupakan suatu perasaan subjektif yang memberi tanda bahwa ada yang salah dalam tubuh seseorang. Tiap orang mengartikan rasa sakit dengan cara yang berbeda-beda dan ambang batas toleransinya juga bervariasi dari satu orang ke orang lainnya.
B.   Respon Pasien Terhadap Nyeri
Persepsi nyeri merupakan mekanisme yang komplek, yang melibatkan sistem saraf pusat dan tepi (otak dan saraf tulang belakang). Pada tubuh, terdapat noci-ceptor khusus yang sensitif pada stimulus berbahaya yang disebut noci-ceptor. Reseptor ini memiliki ujung saraf ‘telanjang’ yang ditemukan pada hampir setiap jaringan tubuh dan dapat dirangsang oleh energi panas, mekanis, kimia, dan listrik.Sinyal rangsangan kemudian dibawa melalui saraf tepi ke saraf tulang belakang dimana impuls atau kejut listrik akibat rasa sakit dapat dimodifikasi.
Di saraf tulang belakang, suatu kandungan kimia yang disebut neurotransmiter dilepaskan. Sinyal rasa sakit yang kuat dihantarkan ke otak namun impuls lemah dihambat oleh modifikasi pada saraf tulang belakang. Hal ini menjelaskan mengapa menggaruk area luka mengurangi intensitas rasa sakit.
Dari saraf tulang belakang, sinyal dihantarkan ke otak yang bertanggung jawab dalam komponen emosional dari rasa sakit. Otak kemudian menganalisis sinyal tersebut dan mengirim sinyal lain melalui saraf motorik ke area yang sakit untuk mengkontraksikan otot dengan tujuan menarik bagian tubuh untuk menjauh dari objek yang membahayakan. Rasa sakit memiliki sifat yang unik dalam menghasilkan efek yang tidak mengenakkan, tidak seperti indra lainnya.
C.   Fisiologis Nyeri
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
a. Reseptor A delta
 Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan
b. Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi
Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi..
D.   Nyeri Dapat di Kelompokkan Menurut Durasinya
1.      Nyeri akut: Tipe ini merupakan jenis rasa sakit yang muncul segera setelah luka atau cedera. Tipe ini memiliki peran protektif dalam membuat seseorang menyadari bahwa ada yang salah, lalu mendorong orang tersebut untuk melindungi dirinya dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Durasi dari rasa sakit akut lebih pendek dan berhubungan dengan mual, muntah, sifat cemas, detak jantung yang cepat, peningkatan laju bernapas, kenaikan tekanan darah, berkeringat, dan membesarnya pupil.

2.      Nyeri kronik: Umumnya didefinisikan sebagai rasa sakit yang bertahan selama tiga bulan atau lebih, tipe ini dapat membatasi fungsi normal tubuh atau bagian yang terkena dampaknya. Tipe ini seringkali tidak memiliki penyebab yang mudah diidentifikasi. Biasanya, tipe ini tidak memberikan efek pada detak jantung, laju pernapasan, tekanan darah, atau pupil, namun dapat menyebabkan masalah lain seperti depresi, gangguan tidur, penurunan energi, kehilangan selera makan, penurunan berat badan, dan penurunan ketertarikan pada aktivitas seksual.


E.   Penanganan Nyeri
Rasa sakit atau nyeri akut secara umum dapat dipulihkan dengan berbagai cara. Nyeri kronik seringkali lebih sulit untuk ditangani secara efektif. Seringkali terdapat penekanan yang lebih besar untuk melakukan perawatan tanpa obat dan membantu pasien agar dapat mengatasi rasa sakit.



*    Perawatan menggunakan obat:
Prinsip dasar dari perawatan yang menggunakan obat adalah untuk meresepkan analgesik (penghilang rasa sakit) yang mengacu pada tingkatan rasa sakit. Di bawah ini merupakan beberapa penghilang rasa sakit umum:
  • Parasetamol
  • Obat-obatan anti-peradangan tanpa steroid (NSAIDS)
  • Opioid (kodein/codeine)

*    Perawatan tanpa menggunakan obat:
Beberapa perawatan umum yang tidak secara utama bergantung pada pengobatan dalam mencapai efek painkiller (penghilang rasa sakit) meliputi:
  • Fisioterapi
  • Terapi pijat
  • Terapi panas
  • Terapi dingin
  • Teknik psikologis (melatih pasien membangun teknik untuk melawan rasa sakit)
  • Pendekatan operasi/bedah (melalui pemotongan saraf yang membawa sensasi sakit)
F.    Menilai / Menganalisis Nyeri
Langkah-langkah bagaimana menentukan apakah cedera atau penyakit jasmanilah yang menyebabkan nyeri. Karena ada banyak alasan yang menyebabkan nyeri dan rasa sakit, riwayat kesehatan yang detail dibutuhkan untuk menilai atau menganalisis rasa sakitnya. Beberapa poin di bawah ini juga sangat membantu:
  • Lokasi nyeri: Pasien mungkin diminta untuk menunjukkan bagian yang paling terasa nyeri.
  • Durasi nyeri: Poin ini mengacu kepada telah berapa lama Anda menderita nyeri. Poin ini dapat dijawab atau dijelaskan dalam bentuk jam, hari, bulan, atau bahkan tahun.
  • Jalannya rasa sakit: Apakah nyeri dan rasa sakitnya berjalan terus-menerus atau diselingi penurunan rasa sakit.
  • Tingkat keparahan rasa sakit: Anda mungkin akan ditanya untuk menilai rasa sakit Anda pada skala 1 sampai 10.
  • Radiasi (Pemancaran): Apakah rasa sakitnya diam di satu tempat atau juga berpindah (tersebar) ke bagian tubuh yang lain.
  • Karakter: Seperti apakah rasa sakit dari nyerinya. Penjelasan yang umum meliputi: rasa sakitnya menusuk, membakar, perih sekali, tidak terlalu parah, mencengkram, mulas, menyentak atau mengguncang, dll. Walaupun terasa sulit menggambarkan nyeri dalam kata-kata, penggambaran tersebut dapat membantu memberikan dugaan yang lebih baik akan ciri-ciri permasalahannya.
  • Peningkatan nyeri: Apa yang menyebabkan rasa sakit dan apa yang membuatnya menjadi lebih buruk.
  • Waktu timbulnya nyeri: Apakah ada waktu khusus saat timbulnya nyeri (misalnya setelah makan atau setelah berolah raga, dll)
  • Pemulihan: Apa yang menyebabkan nyerinya membaik.
  • Asosiasi: Apakah ada gejala lain yang berhubungan dengan nyeri (misalnya muntah, mual, demam, sakit kepala, dll).






G.  Respon Psikologis
Respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien.
Arti nyeri bagi setiap individu berbeda-beda antara lain :

1) Bahaya atau merusak
2) Komplikasi seperti infeksi
3) Penyakit yang berulang
4) Penyakit baru
5) Penyakit yang fatal
6) Peningkatan ketidakmampuan
7) Kehilangan mobilitas
8) Menjadi tua
9) Sembuh
10) Perlu untuk penyembuhan
11) Hukuman untuk berdosa
12)Tantangan



Respon fisiologis terhadap nyeri
1) Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)

a) Dilatasi saluran bronkhialdan peningkatan respirasi rate
b) Peningkatan heart rate
c)Vasokonstriksiperifer, peningkatan BP
d) Peningkatan nilai gula darah
e) Diaphoresis
f) Peningkatan kekuatan otot
g) Dilatasi pupil
h) Penurunan motilitas GI



2) Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)

a) Muka pucat
b) Otot mengeras
c) Penurunan HR dan BP
d) Nafas cepat dan irreguler
e) Nausea dan vomitus
f) Kelelahan dan keletihan

Respon tingkah laku terhadap nyeri
1) Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
2) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
3) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
4) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
5) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri)

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.
2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.
3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

H. Faktor yang mempengaruhi respon nyeri
1) Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2) Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).


3) Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4) Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
5) Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6) Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
7) Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8) Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
9) Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan
Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritifskala intensitas nyeri deskritif

2) Skala identitas nyeri numerik
Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
Skala analog visual

4) Skala nyeri menurut bourbanis
Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul




BAB III
PENUTUPAN
A.      Kesimpulan
Nyeri adalah rasa sakit dan nyeri merupakan kondisi dan pengalaman sensoris dan emosi tidak mengenakkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang sedang terjadi ataupun yang berpotensi dapat terjadi. Perasaan sakit bukanlah penyakit namun merupakan Tiap orang mengartikan rasa sakit dengan cara yang berbeda-beda dan ambang batas toleransinya juga bervariasi dari satu orang ke orang lainnya.
          Nyeri digolongkan menjadi 2 yaitu :
Nyeri kronik: Umumnya didefinisikan sebagai rasa sakit yang bertahan selama tiga bulan atau lebih, tipe ini dapat membatasi fungsi normal tubuh atau bagian yang terkena dampaknya.
Nyeri akut: Tipe ini merupakan jenis rasa sakit yang muncul segera setelah luka atau cedera.

B. Saran
          Kita sebagai sseorang perawat harus sabar dalam menghadapi pasien nyeri. Karena pasien nyeri identik dengan kondisi labil. Maka dari itu dalam berkomunikasi dibutuhkan kesabaran dan keuletan.






DAFTAR PUSTAKA
Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87.
Shone, N. (1995). Berhasil Mengatasi Nyeri. Jakarta : Arcan. Hlm : 76-80
Ramali. A. (2000). Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah. Jakarta : Djambatan.
Syaifuddin. (1997). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat.edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136.
Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63
Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC. Hlm 1502-1533.


















MAKALAH KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN
KOMUNIKASI PADA KASUS NYERI
Di Susun oleh :
1.    Dhian Agustin Widha Utami                      P17420210011
2.    Dwi Rachmawati                                      P17420210012
3.    Dwi Suprapti                                             P17420210013
4.    Edwin Nugroho                                         P17420210014
5.    Eko Fudiyanto                                           P17420210015
6.    Eli Rusmiyati                                             P17420210016
7.    Febrian Yudstira                                        P17420210017
8.    Feri Wahyu H                                            P17420210018
9.    Fuatd Setioko                                            P17420210019
10.  Hindra Meidianto                           P17420210020

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO
2010/2011















Tidak ada komentar:

Posting Komentar